<$BlogRSDUrl$>

haiku bahasa Melayu proses menulis haiku berbahasa Melayu

Tuesday, September 30, 2003

ARTIKEL - APAKAH SAYA MERASA JUJUR PADA 17 SUKUKATA? 

APAKAH SAYA MERASA JUJUR PADA 17 SUKUKATA?
Oleh Arisel Ba

Ya, menuliskan sebuah haiku ke atas selembar kertas bermakna saya sebenarnya sedang berusaha keras untuk jujur kepada diri saya sendiri. Menulis haiku adalah sebuah aktiviti yang sangat personal sifatnya. Yang terlibat hanyalah diri saya seorang, meskipun saya menuliskan tentang persoalan-persoalan besar yang melingkupi diri saya.

Memang betul bahawa pada saat saya menulis haiku, saya dibantu oleh banyak hal.

Pertama, mungkin, bahawa pengalaman saya berinteraksi dengan orang lain. Ini jelas sesuatu yang membuat saya punya bahan untuk dituliskan. Saya tidak dapat--atau akan mengalami kesulitan--menulis haiku apabila bahan-bahan yang ingin saya tuliskan tidak atau belum menjadi sebahagian dari pengalaman saya secara pribadi.

Kedua, mungkin, saya dibantu atau, bahkan, didorong oleh gagasan-hebat milik orang lain sehingga saya harus menuliskan sesuatu. Gagasan-hebat ini boleh saja saya temukan di buku-buku yang saya baca, atau saya peroleh dari menonton filem, sinetron, atau saya meminjam dari irama musik yang saya dengarkan. Kadang-kadang gagasan yang mampu mendorong saya menulis haiku datang bagaikan kilat. Dan ini, kadang, tidak boleh saya duga sebelumnya.

Ketiga, mungkin saja, saya dibantu oleh ketidakstabilan emosi saya akibat gangguan orang lain. Misalnya saja saya dibuat kesal oleh seseorang atau saya dipuji habis-habisan oleh seseorang sehingga diri saya limbung. EQ atau kecerdasan emosi biasanya sangat sering saya gunakan pada saat-saat awal mahu menulis haiku.

Tentu, tidak hanya tiga hal itu yang membantu saya sehingga saya dapat menuliskan sebuah haiku berbahasa Melayu. Saya kira saya masih boleh menyebutkan banyak hal. Dan saya kira, orang lain boleh menyebut lagi lebih banyak hal ketika dia dapat menuliskan sesuatu. Saya cukupkan tiga hal itu sekadar menunjukkan bahawa, meskipun menulis haiku itu merupakan kegiatan yang sangat personal, tetap saja banyak faktor di luar diri personaliti yang membantu saya dapat menulis sesebuah haiku.

Namun, lagi-lagi saya harus cepat-cepat menambahkan sesuatu di sini, semua itu tetap harus dikembalikan kepada diri saya sendiri pada saat saya mahu menuliskan sesuatu. Apa pun faktor di luar diri saya yang dapat mempengaruhi atau menggerakkan saya untuk boleh menulis sebuah haiku, faktor-faktor dari luar itu tetap tidak ada gunanya apabila tidak saya pertemukan dengan totaliti diri saya sendiri.

Apabila saya tidak dapat berkompromi dengan, atau tidak mahu memahami, atau tidak jujur kepada diri saya sendiri terutama untuk mempastikan haiku itu patrunnya 5/7/5, ada kemungkinan saya tidak dapat menulis secara lancar, mengalir, dan menyenangkan.
*
Apa yang saya maksud dengan "jujur kepada diri sendiri"? Tidak mudah, memang, membicarakan soal jujur ini. Bagaimana saya mengukur sebuah kejujuran? Apabila kejujuran dikaitkan dengan kegiatan menulis sebuah haiku, umpamanya, ada kemungkinan saya dapat mengukur soal jujur ini dari seberapa jauh seorang penulis seperti saya tidak menciplak atau menelan mentah-mentah gagasan-original orang lain.

Apakah di dunia ini ada gagasan-original milik seorang penulis, misalnya? Bukankah setiap penulis itu tentu, hujung-hujungnya, hanya merakit gagasan-gagasan banyak orang dan kemudian sedikit diimbuhi dengan gagasannya sendiri? Bagaimana menentukan bahawa sebuah gagasan adalah milik atau merupakan temuan original seorang penulis?

Bagaimana pula dengan sosok seorang Usman Awang yang, pada awal mencipta sajak, menurut beberapa pengamat kesusasteraan Melayu, beliau belajar banyak dari sajak-sajak orang lain? Bagaimana pula dengan A.Samad Said yang pernah diisukan menciptakan sebuah sajak yang juga, menurut beberapa pengamat, mirip dengan sajak yang diciptakan oleh penulis bareat di awal keterlibatan beliau menulis? Bagi saya, pengaruh mempengaruhi tetap ada dan tetap berlaku dan tidak dapat dielakkan. Bagaimana saya mencari penyelesaian akan soal-soal seperti ini?

Saya tidak ingin membawa persoalan "jujur kepada diri sendiri" itu melebar-lebar. Saya akan mencuba menunjukkan saja kepada para pembaca yang akan membaca haiku hasil penulisan saya dan tentang pendapat saya. Boleh jadi, pendapat saya ini masih belum sempurna atau banyak memiliki kekurangan. Namun, yang ingin saya harapkan adalah semoga saya dapat membantu diri saya sendiri, khasnya, atau orang lain yang mahu belajar menulis sebuah haiku untuk memecahkan sendiri persoalan-persoalan berkaitan dengan kejujuran dalam menulis sebuah haiku yang patrunnya 5/7/5.
.
Pertama, saya merasa sangat yakin bahawa setiap manusia, termasuk di sini para penulis haiku khususnya, punya ciri khasnya sendiri-sendiri yang tidak mungkin sama persis dengan orang lain. Saya kira, pada suatu saat kelak, entah bila, setiap manusia boleh menemukan sendiri ciri khas tersebut. Apalagi seorang penulis haiku. Seorang penulis haiku diberi kemampuan lebih oleh Allah Yang Maha Berkuasa untuk lebih cepat, lebih kukuh, dan lebih percaya diri dalam menemukan ciri-ciri khas yang dimilikinya.

Jadi, bagi saya, pada tahap sangat awal, seorang penulis haiku layak meniru gaya penulis haiku yang lain. Bahkan di sini, saya ingin mengatakan, secara tegas dan lantang: harus! Harus meniru lebih dahulu.

Dahulu, waktu masih kanak-kanak, saya meniru cara bicara orangtua saya. Juga, saya meniru cara berjalan orang-orang di sekeliling saya. Saya meniru anjing menyalak. Saya meniru kucing mengiau. Saya meniru siulan burung berkicauan. Sekarang, sesudah dewasa, saya punya ciri khas sendiri dalam berbicara dan berkomunikasi interpersonal.

Juga, mungkin, dalam berjalan. Jadi, tidak apa, pada saat awal, meniru bukan?
Bagaimana supaya kita tidak jatuh dalam bentuk plagiat? Jujurlah kepada diri sendiri. Saya kira tidak usah orang lain yang memutuskan bahawa saya ini seorang plagiat dengan deretan bukti yang ditunjukkan oleh orang lain. Sebelum saya mahu menerbitkan karya penulisan haiku ini, sebenarnya saya telah dapat bertanya kepada diri sendiri tentang apakah karya penulisan haiku saya itu merupakan plagiat atau tidak.

Bagaimana kalau suara hati saya mengatakan itu tidak merupakan karya plagiat, namun di dalamnya ada beberapa tulisan yang meniru gagasan orang lain? Asal saya dapat mempertanggungjawabkan, kenapa saya harus takut? Sekali lagi, meniru tidaklah merupakan suatu cela pada saat saya memang mahu belajar menulis sebuah haiku.

Meniru, ada kemungkinan, boleh membantu saya untuk menemukan karakter saya sendiri.

Kedua, saya juga yakin bahawa setiap orang dapat menuliskan sebuah haiku. Setiap orang tentu mempunyai pengalaman, seberapa pun sederhananya pengalaman yang dimilikinya. Pengalaman inilah yang dapat dijadikan bahan untuk dituliskan sebuah haiku. Apa gunanya pengalaman dituliskan? Ya untuk diseleksi, lewat kegiatan menulis, apakah pengalaman itu berharga untuk diri sendiri atau tidak? Kalau tidak atau kurang berharga? Ya dicuba dihargainya sendiri atau dicari jalan keluarnya agar pengalaman berikutnya dapat mengesankan atau membuat diri saya berharga. Dan ini boleh dilakukan sesiapa saja lewat menulis sebuah haiku.

Kadang-kadang, memang, ada orang yang sudah kepingin menulis sebuah haiku tetapi macet atau kehabisan kata-kata. Atau sukar memadankan kata dengan alam. Saya ingin menunjukkan kepada orang bahawa sebenarnya bukan soal saya tidak boleh atau tidak mampu menulis sebuah haiku. Tetapi yang membuat diri saya kadangkala macet menulis sebuah adalah ketidaktersediaan bahan yang ada pada diri saya. Atau dalam kata lain, saya sebenarnya tidak punya banyak pengalaman mengenai apa yang ingin ditulisnya dalam bentuk haiku.

Lalu untuk memudahkan agar saya atau sesiapa saja yang ingin menuliskan sebuah haiku berdasarkan pengalaman yang saya atau mereka miliki, kita harus bersikap jujur kepada diri kita sendiri. Kalau saya menipu diri saya sendiri atau Anda menipu diri Anda, dengan mengatakan bahawa di dalam diri tersimpan banyak pengalaman berharga yang layak dibagikan kepada orang lain, padahal sebenarnya tidak ada, ya, tentu, akan terjadi kesulitan dalam menuangkan pengalaman kita dalam bentuk tertulis dan lahir sebuah haiku. (Meskipun, ya meskipun, saya atau Anda sudah dibantu oleh seorang penulis handal lain dalam menuliskan pengalaman itu.)

Agar saya dapat jujur dengan diri saya sendiri saat menuliskan pengalaman saya, saya sarankan menulislah lebih dulu untuk ditujukan kepada diri sendiri. Buatlah catatan harian yang diisi setiap hari secara bersambungan dan konsisten. Buku catatan harian dapat menjadi alat bantu yang luar biasa, dan saya sudah membuktikan keampuhannya, melalui PDA misalnya, dalam melakukan ujian apakah saya punya pengalaman berharga atau tidak untuk saya berkongsi dengan orang lain. Saya kira, buku catatan harian atau PDA juga boleh lebih berperanan dari sekadar alat bantu seperti itu. Buku catatan harian atau PDA juga dapat menunjukkan siapa diri saya atau diri Anda, apa ciri khas saya atau Anda, dan apa sebenarnya keunikan yang saya atau Anda miliki.

Sampailah saya pada batas akhir. Apakah kejujuran ini boleh menjadi kriteria-baru untuk sebuah penulisan haiku yang baik? Apa sebenarnya haiku yang baik itu? Menurut saya, haiku yang baik adalah haiku yang bermanfaat bagi perkembangan diri saya dan diri orang lain. Apabila haiku saya atau haiku Anda dibaca orang lain dan orang lain yang membacanya dapat memperbaiki dirinya akibat membaca haiku itu, maka inilah yang saya maksud dengan sebuah haiku yang baik.

Sebuah haiku sebagaimana sebuah sajak dapat mempengaruhi orang lain. Haiku berbeda dengan penggambaran secara visual. Sebuah haiku dapat mengajak seseorang untuk merenungkan dirinya bersendiri dalam sunyi. Haiku dapat berubah seperti cermin yang dapat digunakan untuk berkaca, baik itu menyangkut keadaan fisikal mahupun nonfisikal orang yang membaca sebuah haiku.

Oleh itu supaya setiap haiku yang dilahirkan oleh saya dapat menjadi sebuah haiku yang baik dan dapat mempengaruhi pembacanya menjadi lebih baik, saya ingin mensyaratkan bahwa sesebuah haiku harus ditulis secara jujur oleh si penulisnya. Semoga apa yang saya gagaskan ini dapat difahami. Dan saya ingin mengakhiri esei saya ini dengan kata-kata berikut ini:

"Saya hanya boleh mengeluarkan kata-kata dan merangkai kata-kata itu menjadi sesuatu yang berharga (atau kadang kata-kata itu "bertenaga") sebagai sebuah haiku untuk diri saya dan diri orang lain, dan semoga juga berharga untuk pembaca yang membaca esei saya ini, apabila saya menulis sebuah haiku, apa adanya tentang diri saya. Ini berarti saya harus jujur kepada diri saya sendiri."


HAIKU DALAM BAHASA MELAYU
( Haiku ditulis oleh Arisel Ba* )

TINGGI SAYUP KE ATAP
: Damahum
arisel ba

lajunya buai
tinggi sayup ke atap
serindit terbang

2 Jun 2003
Kuantan, Pahang

KATA TERHILANG JEJAK
Arisel ba

Aku menulis
Sajak bulan meretak
Kata takjejak

Kuantan, Pahang
2 Jun 2003

BALANG TAKPECAH
: Yassin Salleh
arisel ba

Ikan melompat
Selepas pancing patah
Balang takpecah

3 Jun 2003
Kuantan, Pahang


BERDIRI DALAM TASIK
: A.Samad Said
arisel ba

Bunga teratai
Berdiri dalam tasik
Berenang ikan

4 Jun 2003
Kuantan, Pahang


HIDUP BERSAMA
: Selamah
arisel ba

Perkahwinanku
melupakan cintamu
hidup bersama

4 Jun 2003
Kuantan

JALUR GEMILANG
: Malaysia Negaraku
Arisel ba

Jalur gemilang
Megah ibu terasa
Jalur semangat

5 Jun 2003
Kuantan, Pahang

MIMPI SI TANGGANG
: Prof. Dr. Muhamad Haji Salleh
arisel ba

Senja lautan
Malam helang takpulang
Mimpi si Tanggang

5 Jun 2003
Kuantan, Pahang

MEMBEKAS PADA BATU
: Ikranagara
arisel ba

Tapak kakimu
Membekas pada batu
Renta bermimpi

Menyimpan api
Di wajahmu peluru
Desa dibakar

Dasar matamu
Menyisir gubuk miskin
Menguncur darah

6 Jun 2003
Kuantan, Pahang

TENTANG RINDU YANG INDAH
Arisel ba

Rindu tepaut
Bebayang awan hujan
Negeri mimpi

Dongeng kaukata
Tentang rindu yang indah
Kamar yang sunyi

7 Jun 2003
UPSI Tanjung Malim, Perak

Saturday, September 20, 2003

MAWAR SEKUNTUM 

MAWAR SEKUNTUM
Haiku arisel ba

Mawar sekuntum
Merah, biru dan kuning
Bahasa cinta

Merajut mimpi
Mawar kembang berduri
Terhalang cinta

18 September 2003
Kuantan, Pahang


DI DALAM KOLAM
Haiku arisel ba

Di dalam kolam
Wajah kita bersatu
Melangit rindu

20 September 2003
Kuantan, Pahang

Thursday, September 18, 2003

LIDAH DAN GIGI GAMAT 

LIDAH DAN GIGI GAMAT
Haiku arisel ba

Sirih melumat
Lidah dan gigi gamat
Bibir kesumba

Membias legam
Wajah berganti hari
Dunia kesumba

16 September 2003
Kuantan, Pahang

Friday, September 05, 2003

PAHIT SECAWAN KOPI 

PAHIT SECAWAN KOPI
Haiku arisel ba

Saban pagi
Pahit secawan kopi
Merah mentari

5 September 2003
Kuantan, Pahang

SECAWAN KOPI 

SECAWAN KOPI
: Semelar Irwan Abu Bakar
Haiku arisel ba

Setiap pagi
Teguk secawan kopi
Aroma puisi

20 Ogos 2003
Temerloh, Pahang

This page is powered by Blogger. Isn't yours?